|
Ada Apa Dengan Kaul
Ketaatan
Ketaatan jarang dibicarakan karena
jarang menimbulkan masalah. Ini bisa dilihat di dokumen
personalia propinsi dan dari pembicaraan sehari-hari. Dapat
juga dilihat dari instansi-instansi yang harus kita taati
menurut DirProp Bab VII, fasal IV art. 4: Tahta Suci,
Konstitusi, Kapitel Jenderal dan DirJend yang ditetapkan,
Kapitel Propinsi dan DirProp yang ditetapkan, Pater
jenderal, Pater propinsial, Pimpinan komunitas.
3
Keprihatinan Utama:
1. Masalah Praktis:
1.
Melaksanakan himbauan, ajakan, anjuran dari otoritas
resmi: propinsial, superior, ekonom. Mengapa bisa demikian:
- Tidak
ada sanksi (Hanya sanksi moral)
-
Kewibawaan pemimpin. Para pemimpin kita umumnya low
profile dan lebih sering menggunakan cara-cara persuasif
dari pada otoritatif.
2.
Melaksanakan kesepakatan / keputusan bersama:
Propinsi, komunitas (wilayah maupun rumah). Mengapa bisa
demikian:
-
Dokumentasi kesepakatan, misalnya pertemuan komunitas
tidak dicatat.
-
Objektif atau sasaran yang hendak dicapai kurang jelas.
- Tidak
jelas siapa melakukan apa.
-
Kontrol dan evaluasi tidak ada.
2 Masalah
Teologis
Inti kaul ketaatan adalah penyerahan diri pada kehendak
Allah. Apa yang menjadi keprihatinan:
-
Mencari dan menemukan kehendak Allah sepertinya bukan
menjadi prioritas dalam hidup. Tandanya: kita hanya
menyisihkan sedikit waktu untuk hening, membaca KS,
meditasi, membuat refleksi.
- Dalam
bertindak atau mengambil keputusan mungkin kita kurang
mempertimbangkan sudut pandang Allah.
- Kita
merasa puas bila sudah melaksanakan kewajiban / tugas
minimal.
3.
Mentalitas Penghambat Ketaatan
-
Mencari enak
-
Rasionalisasi
- Bicara
di belakang punggung
Pokok-Pokok Kaul Ketaatan
1.
Konst. 53.
- Yesus
telah menyerahkan Diri dalam cintakasih kepada kehendak
Bapa-Nya; kesediaan itu nampak secara khusus dalam
perhatian dan keterbukaan-Nya terhadap kebutuhan dan
harapan orang orang lain. “Makanan-Ku ialah melakukan
kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan
pekerjaan-Nya”(Yoh 4:34).
- Dengan
mengikuti teladan Kristus, melalui pengikraran ketaatan,
kita ingin mengorbankan diri kita sendiri kepada Allah,
dan mempersatukan diri lebih teguh dengan kehendak
penyelamatanNya.
-
Tiga hal penting:
-
Mengikuti teladan Kristus
-
Mengorbankan diri sendiri kepada Allah
-
Mempersatukan diri lebih teguh dengan kehendak
penyelamatan-Nya.
- Dalam
hidup sehari-hari dimensi ini kurang mendapat tekanan.
Tekanan kita umumnya terfokus pada ketaatan terhadap
instansi. Kita agak melupakan kehendak Allah.
2.
Mencari Kehendak Allah
-
Kehendak Allah itu terwujud dalam berbagai perintah
moral umum. Tetapi tidak hanya sebatas itu saja. Setiap
situasi kongkrit yang kita hadapi menuntut suatu
tanggapan dan tanggapan itu semestinya kita tempatkan
dalam kerangka kehendak Allah.
-
Disinilah pentingnya discernment, pentingnya membiarkan
diri dibimbing oleh Roh.
-
Discernment menjadi lebih mudah bila dilandasi
Pengenalan akan Allah. Pengenalan akan menghantar pada
Kedekatan.
- Dan
Kedekatan akan membuat kita lebih peka menangkap
kehendak Allah.
3.
Ketaatan Mengandaikan Kedewasaan
- Orang
hanya diwajibkan taat kalau ia mampu dan bisa dituntut
tanggungjawab. Maka ketaatan itu mengandaikan
kedewasaan.
-
Pimpinan biasanya tidak memberikan perintah-perintah
secara detail.
- Dalam
sistem demokrasi pemimpin biasanya berdialog.
- Dialog
tidak akan lancar bila tidak dilandasi kedewasaan: bisa
emosi, kecewa, tidak mau mendengarkan, dll
4. Taat
pada Pimpinan
Bila pemimpin otoriter
•
Kembangkan pendekatan personal
•
Manfaatkan pertemuan komunitas untuk membicarakan
persoalan-persoalan
•
Bicarakan dengan pemimpin di atasnya (misalnya bila
ia seorang PIKO)
•
Turuti dengan lapang dada
Bila pemimpin demokratis
•
Hargai dan hormati niat baiknya
•
Kemukakan pendapat entah setuju atau tidak
•
Bila sudah ada kesepakatan berusahalah untuk
konsekwen
Bila pemimpin cuek / tidak peduli:
•
Jangan segan-segan bertanya atau minta penjelasan
•
Bila terpaksa harus mengambil keputusan sebelum
sempat bertanya, segera beritahu bila ada kesempatan
5.
Ketaatan Membawa Pembebasan
•
Dengan kaul ketaatan kita mempersembahkan kehendak
kita. Kita tidak terpaksa mengikrarkan kaul ketaatan. Hal
itu pantas digarisbawahi karena saat ini kita berada di arus
jaman yang ditandai:
·
Kesetaraan dalam martabat manusia
·
Individualisme dan otonomi pribadi
·
Budaya demokrasi
·
Keberanian dan kebebasan berbicara
•
Dengan memberi tekanan pada persembahan kita bisa
menjadikan ketaatan justru sebagai sarana menuju pembebasan.
Kita mempersatukan kehendak kita dengan kehendak Allah. Kita
dibebaskan dari kehendak pribadi yang sering hanya mencari
yang enak dan menyenangkan, dan ujung-ujungnya akan
menjauhkan kita dari rencana penyelamatan Allah.
•
“Ecce Venio. Penghayatan kita akan semboyan itu
membuat ketaatan kita menjadi suatu persembahan, dan
menjadikan hidup kita serupa dengan Kristus… (Konst. 58)
6.
Harapan-Harapan
- Kita
makin tekun dalam mencari dan menemukan kehendak Allah:
membaca KS, meditasi, refleksi pribadi maupun bersama.
Disinilah kita mengasah kepekaan kita pada kehendak
Allah.
-
Pendengar dan pelaksana Sabda. Hal itu akan tampak dalam
hidup sehari-hari:
-
Melaksanakan ajakan, seruan, perintah superior atau
pihak-pihak yang berwenang.
-
Melaksanakan kesepakatan bersama.
- Kita
akan menjadi orang yang peka menangkap kehendak Allah
yang tersirat dalam diri para superior, para konfrater,
dan orang-orang yang kita layani.
|