Masa Kecil
Leo Dehon lahir pada 14 Maret 1843 di La Capelle, Aisne,
Prancis Utara. la lahir sebagai anak ketiga dari
keluarga yang tergolong berada. Ayahnya, Alexander Jules
Dehon, seorang jujur, murah hati dan penderma. Namun
Alexander sudah sejak masa mudanya meninggalkan Gereja,
sewaktu belajar di kota Paris. Ia terpengaruh oleh
gerakan anti Gereja. Istrinya, Adele Belzamine (ibu
Leo), seorang yang saleh dan sangat memperhatikan
pendidikan rohani anak anaknya.
Leo memperoleh pendidikan dasar di La Capelle. Kemudian
ia melanjutkan di Kolese di Hazebrouck. Selesai belajar
di kolese tersebut, ia mengajukan keinginannya menjadi
imam. Ayahnya menolak keinginannya. Leo malahan
dianjurkan belajar hukum di Universitas Sorbone di
Paris. Hal itu sebagai taktik ayahnya agar Leo melupakan
cita citanya menjadi imam. Ternyata masa studi ini
sangat bermanfaat bagi Leo. Kurikulum Fakultas saat itu
banyak membicarakan masalah masalah sosial, ekonomi dan
politik yang aktual. Leo juga aktif dalam riset riset
pribadi maupun studi kelompok, sehingga perhatiannya
pada masalah masalah sosial sangat berkembang. Dalam
tahun 1864 Leo meraih gelar doktor Hukum Sipil.
Menjadi Imam
Ayahnya menghendaki agar Leo menduduki jabatan tinggi di
pemerintahan. Tetapi Leo lebih memilih menjadi imam.
Setelah banyak mendapat pertentangan dari keluarganya,
akhirnya Leo diizinkan mengikuti cita citanya. Tahun
1865 ia masuk Seminari Santa Klara di Roma. Studinya
dilaluinya dengan lancar. Pada 19 Desember 1868 ia
ditahbiskan di Gereja Santo Yohanes Lateran, di Roma.
Kedua orangtuanya menyaksikan peristiwa yang sangat
bersejarah dalam kehidupan Leo Yohanes Dehon itu. Pada
hari itulah ayahnya, yang tidak begitu peduli dengan
kehidupan imannya, mengaku dosa dosanya agar dapat
menyambut komuni suci dalam persembahan misa pertama Leo
hari berikutnya.
Leo kemudian meneruskan studinya di Roma hingga meraih
gelar doktor ilmu Ketuhanan (teologi) tahun 1871. Pada
Konsili Vatikan I, ia juga bekerja sebagai stenograf
dalam sidang sidang Konsili itu. Meskipun kesibukan
menyita waktunya, Leo masih berhasil meraih gelar Hukum
Gereja dan Filsafat.
Setelah kembali ke Prancis ia ditugaskan sebagai pastor
pembantu di Saint Quentin, sebuah kota industri di
Prancis Utara. Kehidupan kaum buruh waktu itu sangat
memprihatinkan. Leo Dehon tergerak hatinya dan mulai
memperjuangkan nasib mereka. Ia mengunjungi mereka dan
membicarakan suka duka hidup mereka. Ia juga mengadakan
pendekatan dengan para pemilik pabrik, membujuk mereka
agar upah buruh dinaikkan. Sebuah surat kabar
didirikannya untuk memperjuangkan orang orang miskin dan
kaum buruh.
Sejak belajar di Roma, Leo Dehon mencita citakan
kehidupan belajar dan merenung. Dan setelah menjadi imam
dengan berbagai pekerjaan yang menyita seluruh hidupnya,
cita cita itu dirasakannya sebagai sangat tepat untuk
dikembangkan. Pada waktu itu ia juga menjadi pembimbing
rohani Suster suster Hamba Hati Kudus Yesus. Kongregasi
ini sangat membantu Pater Leo Dehon dalam karya karya
sosialnya. Di samping itu kehidupan rohani dan semangat
mereka sangat sesuai dengan cita cita Leo Dehon sendiri,
yakni cintakasih dan pemulihan kehormatan Hati Yesus dan
bersama Yesus kepada Allah. Keinginannya yaitu menjadi
imam sekaligus biarawan dengan semangat itu. Ia mencari
Kongregasi kongregasi dengan semangat para Suster Hamba
Hati Kudus Yesus, namun ia tidak menemukan satu pun yang
sesuai dengan dorongan hatinya.
Mendirikan Kongregasi SCJ
Kaitannya dengan Asrama …….
Di bawah bimbingan Pater Modiste SJ ia mulai merintis
cara hidup baru. Atas nasihat Pater Modiste juga ia
berani mengambil keputusan yang sangat menentukan dengan
memulai masa persiapan, yaitu Masa Novisiat. Ia memilih
nama Yohanes dari Hati Kudus. Pada Hari Raya Hati Kudus
Yesus, 28 Juni 1878, Leo Yohanes Dehon mengikrarkan kaul
kaul hidup membiaranya. Itulah awal mula berdirinya
Kongregasi Imam imam Hati Kudus Yesus, suatu Kongregasi
yang dipersembahkan untuk cintakasih dan pemulihan
kepada Allah.
Tidak lama kemudian beberapa orang bergabung dengan
Pater Dehon. Hal itu membawa perkembangan cukup pesat
bagi Kongregasi, di antaranya Kongregasi mulai
berkembang ke negara Eropa Barat dan dimulainya misi di
Equador sepuluh tahun kemudian.
Pater Dehon dan karya Social……
Sampai akhir hidupnya Pater Dehon memimpin Kongregasi
sebagai Superior Jenderal. Ia rajin mengunjungi putra
putranya yang mulai tersebar juga di luar Eropa dan
memberikan semangat rohani kepada mereka. Leo Yohanes
Dehon wafat di Brussel tgl 12 Agustus 1925.
Pater Leo Yohanes Dehon, Sang Abdi Cintakasih, telah
menyerahkan diri seutuhnya demi Kerajaan Hati Kudus
Yesus. Ia mengabdi bagi cintakasih Allah. Kesetiaan dan
cintanya kepada Kristus diwujud nyatakan dalam karya
karya cintakasih kepada sesama manusia. Perhatiannya
terutama bagi mereka yang tersingkir dan tertindas serta
bagi mereka yang memerlukan uluran tangan penuh cinta.
Semangat hidupnya terungkap dalam pesan terakhir bagi
para pengikutnya, “Untuk Dia aku hidup dan untuk Dia aku
mati” sambil menunjuk patung Hati Kudus Yesus. Itulah
warisan melimpah bagi kita yang hidup pada zaman ini.
Proses Beatifikasi
Dasar Spiritualitas SCJ
1. Kongregasi baru ini berakar pada pengalaman iman
Pater Dehon. Pengalaman seperti diungkapkan Santo
Paulus, “Hidupku yang kujalani sekarang dalam daging,
adalah hidup dalam iman akan Anak Allah, yang telah
mengasihi aku, dan telah menyerahkan diri untukku” (Gal
2:20). Leo Dehon mengalami betapa cintakasih itu hadir
dan berkarya dalam hidupnya. Baginya Lambung Penebus
yang tertikam dan terbuka merupakan ungkapan cintakasih
paling mengesan. Cintakasih Kristus, yang mengorbankan
diri sampai mati, adalah sumber keselamatan.
2. Pater Dehon sangat peka terhadap dosa yang membuat
Gereja menjadi lemah. Ia mengenal baik kemalangan dan
kejahatan yang ada dalam masyarakat. Ia mempelajari
secara teliti sebab musababnya. Ia sampai pada
kesimpulan bahwa sebab yang paling dalam ialah penolakan
terhadap cintakasih Kristus. Tergerak oleh cintakasih
yang ditolak itu, putra bangsawan De Hon itu ingin
membalasnya melalui suatu persatuan mesra dengan Kristus
dan ikut menegakkan KerajaanNya dalam batin manusia dan
dalam masyarakat.
3. Dengan Kongregasi ini Pater Dehon bermaksud, agar
para anggotanya mempersatukan seluruh dirinya, sebagai
biarawan dan rasul, dengan persembahan Kristus kepada
Bapa sebagai pemulihan demi kepentingan manusia. Itulah
maksud khas dan asli Pater Dehon serta menjadi ciri khas
Kongregasi. Para anggotanya diharapkan menjadi nabi
cintakasih dan pelayan perdamaian. Mereka hendak
mempersembahkan seluruh dirinya dengan kegembiraan
kesedihannya. Mereka menjadikan seluruh hidupnya suatu
ibadah persembahan kasih dan pemulihan. “Persatuan
dengan Kristus itu mengungkapkan diri sepadatnya dalam
Korban Ekaristi, sehingga seluruh hidupnya menjadi suatu
Misa yang terus menerus” (Konst. SCJ no. 5)
Pater Dehon merumuskan seluruh panggilan, cita cita dan
tujuan Kongregasi dalam kata kata: ECCE VENIO
(Lihatlah Aku datang.... untuk melakukan kehendak Mu, ya
Allah) dan ECCE ANCILLA (Aku ini hamba Tuhan).
Pater Dehon menyadari bahwa untuk menghadirkan “Kerajaan
Hati Kudus Yesus dalam hati manusia dan dalam
masyarakat” tidak mungkin dibuatnya sendiri bersama
dengan Kongregasinya. Sejak pertama dia sudah melibatkan
orang lain di luar Kongregasinya untuk bekerja sama
mewujudkan apa yang menjadi keinginan hatinya itu. Dari
sinilah munculnya keyakinan bahwa orang-orang lain di
luar biaranya pun dipanggil untuk ikut serta di dalam
“Gerakan Cinta Kasih” sebagaimana dicita-citakan oleh
Pater Leo yohanes Dehon.