RIWAYAT HIDUP

 

Romo Fransiskus Xaverius Dhartawardaya SCJ,

Lahir pada 31 Juli 1944 di Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kab.Lampung Selatan,

dengan nama kecil Soedarto dari pasangan Paulus Sastrowirono dan Yosefa Suwarti.

Pada 5 Pebruari 1966, Soedarto ketika duduk di kelas tertinggi (Rethorica) Seminari Menengah Santo Paulus Palembang, mengajukan permohonan untuk bergabung dengan Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus (SCJ) dan permohonan tersebut diterima dengan memasuki masa Postulat yang dilaksanakan di Palembang 7 Oktober 1966.

Pada 8 Desember 1967 diperkenankan memasuki masa Novisiat yang diselenggarakan di Gisting.

Pada 8 Desember 1966 mengikrarkan kaul pertama pada Kongregasi Imam Imam Hati Kudus Yesus di Gisting Lampung.

Kaul kekal dilaksanakan pada 12 September 1976 di Paroki St.Maria Gumawang Belitang.

Pelantikan Lektor Akolit pada 14 September 1976 di Pringsewu oleh Mgr.A.Hermelink Gentiaras.

Tahbisan Diakon , 9 September 1976 di Gereja Kristus Raja Bandar Lampung

Tahbisan Imamat, 8 Desember 1976 di Gereja St.Yosep Pringsewu oleh Mgr.A.Hermelink Gentiaras SCJ.

 

TEMPAT DAN KARYA

Studi Filsafat th. 1968 sampai dengan th. 1969 di Yogyakarta

Tahun Orientasi Pastoral  Th.1970 di Paroki Kotagajah Lampung

Studi Teologi th. 1971 di Yogyakarta &  th.1972 sampai th.1975 di Bandung

Menjalani Tahun Pastoral akhir pada th. 1976 di Bangunsari Bk.3 Buay Madang

19 Desember 1976 diangkat menjadi Pastor Paroki Mojosari Bk.9 Belitang I

19 Desember 1979 diangkat menjadi Pastor Paroki Tegalsari Bk.20 Belitang II

23 Juli 1980 Beliau mendadak sakit, lumpuh kedua kakinya.

 

Kemudian beliau dirawat di RS Carolus Jakarta.  Mgr. Soudant berbicara dengan Rm. Dharta dan Dr. Maryono Direktur RS Carolus tentang kemungkinan berobat ke luar negri. Laporan medis dikirim ke Memisa lewat Misiprokur Belanda dan copynya oleh Rm.Sondermeijer dikirim ke keluarganya yang menjadi dokter di Nederland. Dari kunjungan kemenakan Dr.Maryono yang menjadi neurolog di RS Havenziekenhuis, rumah sakit terkemuka di Nederland, secara seksama dokter tersebut memeriksa penyakit Romo Dharta dan kesimpulannya cukup menyedihkan. Dengan yakin ia menyatakan Romo tidak dapat sembuh. Penyakitnya disebabkan karena suatu abses (infeksi) pada ujung sumsumnya. 24 jam setelah dia diserang sudah tidak ada harapan untuk menyembuhkannya. Akhirnya diputuskan tidak dibawa ke luar negeri.

 

Maret 1981 Beliau dirawat di RS.Fatmawati  Jakarta & selama berada di Jakarta membantu di paroki

09-07-1982 Menetap di Seminari St.Paulus Jl. Bangau 60 Palembang

04-08-1997 Menetap di Wisma Hanna Km,7 Palembang sampai akhir hidupnya