Diakon SCJ 2010

 

 

Dibutuhkan imam yang cerdas

 

Dibutuhkan imam yang cerdas untuk memimpin jemaat di zaman sekarang ini. Imam yang cerdas itu mampu membawa diri dan berkomunikasi dengan berbagai kalangan yang dilayaninya. Untuk itu, dalam proses pendidikan imam, para calon imam mesti memenuhi 4 hal penting, yaitu Sciencia (berilmu), Sanitas (what), Santitas (suci) dan Sosialitas yang berarti mampu bersaudara dengan siapa saja.

 

Hal ini diungkapkan oleh Mgr Sudarso dalam kotbahnya pada Perayaan Ekaristi tahbisan diakon di kapel Seminari St Paulus Palembang, Senin (25/1) lalu. Lima frater SCJ yang menerima anugerah tahbisan diakon adalah Fr Paulus Guntoro, SCJ, Fr Louis Antony Wijaya, SCJ, Fr Alfonsus Zeam Rudi, SCJ, Fr Eduardus Sriyanto, SC J dan Fr Antonius Suedi Oki Kuncoro, SCJ.

 

Berbagai ilmu dan pengalaman yang menjadi bahan pengolahan bagi hidup rohani calon-calon imam itu menjadi makanan sehari-hari bagi mereka.

Mereka menjalaninya mulai dari

 

seminari, masuk ke masa postulan dan novis hingga menerima anugerah imamat. Sosok gembala memang sangatlah dibutuhkan            oleh      gereja. Kehadiran mereka menjadi sarana keselamatan bagi dunia. "Hari ini kita berkumpul untuk bergembira bersama, karena lima orang muda ini telah berani menyerahkan dan mempersembahkan diri kepada Tuhan untuk menjadi pelayanNya melalui rahmat diakonat," kata Mgr Aloysius Sudarso, SCJ, mengawali khotbahnya.

 

Sebenarnya untuk saat sekarang, imam seperti apa yang diharapkan umat? Menurut Mgr Sudarso, imam yang diharapkan umat di jaman sekarang adalah imam yang mampu menawarkan Kristus kepada dunia. Artinya, seorang imam itu bisa menjemaat, menghadirkan rahasia-rahasia Tuhan. "Imam yang dapat dapat melayani dan harus trampil, karena hidup dikelilingi berbagai latar belakang yang berbeda baik itu suku, budaya, kedudukan dan agama. Melayani adalah dasar hidup kristiani seperti Yesus berkata, "Aku datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani." Apa yang dikatakan Yesus itu sering kali tidak kesampaian. Mengapa? Karena untuk menjadi pelayan bukanlah sekali jadi, tetapi kita harus berani mengosongkan diri terlebih dulu. Selama kita tidak dapat mengosongkan diri, semua itu tidak akan tercapai," tandas Mgr Sudarso.

Menjadi pelayan tidak akan pernah selesai. Karena itu, menurut Mgr Sudarso, lima diakon ini mesti mampu melayani dengan sepenuh hati. Mereka dituntut untuk bisa hidup selibat yang dengan sepenuh hati mereka olah hanva untuk Tuhan dan tidak terbagi. Selain itu, mereka juga dituntut untuk selalu mendoakan ibadat harian dan diharapkan dapat menjadi pendoa bagi semua orang. Mereka pun mesh memecahkan hidupnya untuk semua orang seperti telah dilakukan oleh Yesus terhadap diriNya sendiri. Pelayanan tidak pernah berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus bekerja sama dengan gereja.

 

Karena ini, scorang diakon mesti memiliki iman yang tegnh, mengakui kelemahan dirinva dan menjadi pelayan seperti Kristus. Para diakon baru ini mesti meneladan hidup Santo Paulus yang teguh imannya kepada Kristus.

 

Dalam sambutannya, Frd Paulus Guntoro, SCJ, mengungkapkan kasih yang begitu berlimpah yang telah ia dan keempat diakon lainnya alami. Selama satu menjalani retret, mereka disadarkan akan kasih Allah yang membangkitkan iman yang mendalam kepada Allah itu. "Betapa kasih Allah itu menyentuh, mendorong dan menguatkan kami, sehingga kami mampu menjawab undangan Allah terhadap kami melalui karya pelayanan dan persembahan diri kami. Ungkapan kasih Allah itu kami tanggapi dengan sebuah motto `Lobe All, Serve All; mencintai semua, melayani semua," ujar Frd Paulus Guntoro, SCJ.