| Hari Raya Hati Kudus Yesus |
|---|
|
Novena Hati Kudus Yesus hari ke - 1
ALLAH MENCIPTAKAN SEMUA BAIK ADANYA
Setiap makhluk adalah ciptaan Allah. Dan dalam diri setiap makhluk Allah telah menetapkan peran sesuai dengan citra dan hakekatnya. Taat kepada kehendak Allah berarti dengan setia menjalankan peran-peran sesuai dengan aturan main yang telah Allah tetapkan.
Bacaan Pertama : Kej. 1: 29 – 2: 3 Bacaan Injil : Yoh. 1: 1 - 5 Doa Pembukaan : Allah Bapa yang Mahakuasa, kami bersyukur kepada-Mu atas karya penciptaan-Mu. Engkau menciptakan kami agar kami hidup bahagia. Engkau selalu memperbaharui ciptaan-Mu dalam diri Yesus Putera-Mu. Bukalah telinga dan hati kami untuk mendengarkan Sabda-Mu, agar kami dapat mengenal kehendak-Mu. Dampingilah kami untuk menjadi hamba yang selalu percaya kepada-Mu. Demi Yesus Kristus Putera-Mu yang hidup dan bertahta dalam persekutuan Roh Kudus sepanjang segala masa. Amin.
Refleksi Dalam rangka Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus tahun ini kita akan merenungkan ketaatan. Ketaatan yang hendak kita renungkan pertama-tama adalah ketaatan pada kehendak Allah. Allah sendiri memang menghendaki agar manusia mentaati kehendak-Nya. Semua orang dipanggil untuk menjadi taat. Ketaatan adalah sikap menyerahkan diri sepenuhnya pada kehendak Allah. Ada banyak alasan mengapa tema ketaatan pantas menjadi bahan permenungan kita kali ini. Kita hidup di tengah jaman yang mengagungkan otonomi pribadi. Ketaatan sering dipandang berlawanan dengan kebebasan. Taat membuat kita tidak bebas dalam mengekspresikan diri kita. Salah satu arus yang dibawa mesin globalisasi adalah –deregularisasi. Inti dari deregularisasi adalah mengurangi sebanyak mungkin aturan sehingga memberi ruang yang sangat luas bagi individu maupun institusi untuk bertindak. Banyak orang yang merasa terbelenggu dengan aturan. Akibatnya orang mau mengurangi aturan sampai batas minimal. Ketidaknyamanan pada peraturan membuat kita mentaati peraraturan hanya kalau ada sanksinya saja. Kita tentu masih ingat dengan suatu iklan di televisi yang menampilkan seorang perempuan muda cantik dengan mobil melanggar rambu-rambu lalu lintas. Ketika dihentikan oleh polisi yang bersembunyi dengan santai ia menjawab: “Kan tidak ada yang jaga.” Peraturan ditaati kalau ada yang menjaga, yang mengawasi, yang memberi hukuman bila dilanggar. Itulah kebiasaan umum yang terjadi di masyarakat kita. Ada juga orang yang memilih bersikap permisif terhadap peraturan. “Aturan kan dibuat supaya dilanggar.” Begitulah kira-kira pemikiran mereka yang tidak mau peduli pada peraturan. Bagi mereka tidak ada peraturan itu sangat fleksibel; dilaksanakan bila menguntungkan atau menyenangkan, dan dilanggar bila ternyata tidak menimbulkan ketidaknyamanan. Bagi orang-orang semacam itu ketaatan sama sekali tidak ada nilai dan harganya. Dan ternyata justru sikap-sikap seperti itulah yang banyak berkembang dalam masyarakat kita. Oleh karena itulah pada kesempatan ini kita diajak untuk merenungkan ketaatan. Bila mentaati hal-hal yang kelihatan saja tidak mudah apa lagi mentaati Allah yang tidak tampak. Ketaatan pada kehendak Allah mengandaikan bahwa orang mengenal siapa Allah dan apa yang dikehendaki-Nya. Kita menganggap diri sebagai bangsa yang berke-Tuhan-nan yang maha esa. Kita secara yuridis formal mengakui eksistensi dan peran Allah dalam hidup kita. Tetapi dalam praktek bisa menjadi berbeda. Kita bisa mengalami banyak kesulitan untuk menemukan apa yang sebenarnya menjadi kehendak Allah. Oleh karena itu dalam novena ini tahap demi tahap kita akan menggali dan merenungkan kehendak Allah itu. Tema pertama yang kita renungkan adalah “Allah Menciptakan Segala Sesuatu Baik Adanya.” Judul permenungan hari pertama ini jelas sekali merujuk pada awal mula dunia diciptakan sebagaimana terangkum dalam Kitab Kejadian. Menurut kitab tersebut dunia diciptakan tahap demi tahap. Allah sebagaimana digambarkan penulis Kitab Kejadian adalah Pencipta yang tidak hanya kreatif tetapi juga well-planned, well-organized. Allah menciptakan tidak asal-asalan saja; ada tahap-tahapan yang Ia lewati; ada aturan main yang konsisten. Setiap kali ia selesai dengan suatu ciptaan Ia berhenti sejenak “melihat bahwa semuanya itu baik.” Dari cara-Nya menciptakan dunia saja sebenarnya kita bisa menangkap apa yang sebenarnya Allah kehendaki. Allah pasti menghendaki agar semuanya menjadi baik. Baik di mata Allah. Kebaikan itu terwujud bila dunia itu dalam situasi yang teratur, yang well-organized. Keteraturan itu ternyata indah dan membawa kebaikan bagi semua. Kita bisa melihat ada harmoni yang luar biasa dalam dunia yang diciptakan Allah. Semua ciptaan mempunyai tempat dan peran masing-masing. Setiap ciptaan mampu menjalankan peran itu sesuai dengan hakekatnya. Matahari dan bulan misalnya mempunyai peran menjadi penerang. Harmoni itu terjalin karena Allah konsisten dengan diri-Nya, dengan aturan main yang telah Ia rencanakan. Segala yang diciptakan pun mengikuti aturan main yang ditetapkan Allah. Dan persis itulah yang sebenarnya dikehendaki Allah: semua ciptaan mengikuti aturan main dan mengarahkan dirinya untuk kebaikan bersama. Ketaatan dalam konteks ini bisa kita pahami sebagai usaha untuk menempatkan diri dalam aturan main yang ditetapkan Allah. Setiap ciptaan mempunyai peran dan peran itulah yang semestinya dijalankan. Matahari dan bulan misalnya benar-benar mentaati Allah bila sungguh-sungguh menerangi. Bumi melaksanakan kehendak Allah bila ia menjadi tempat segala sesuatu yang hidup. Manusia mentaati Allah bila ia menjalankan perannya menjadi pengelola dunia. Dan semua itu ada aturan mainnya sesuai dengan hakekat masing-masing. Aturan main itu penting supaya setiap ciptaan mampu menjalankan peran yang diberikan sang Pencipta. Aturan main diperlukan bukan untuk membatasi tetapi untuk lebih memudahkan setiap ciptaan dalam melaksankan perannya. Aturan main itu seperti kompas yang memberi petunjuk ke mana kita menuju. Kebaikan yang semestinya menjadi sasaran setiap ciptaan akan lebih mudah digapai jika ada petunjuk-petunjuk yang jelas. Namun demikian aturan main itu menjadi useless apabila tidak ada konsistensi dan komitmen bersama untuk mentaatinya. Dalam kerangka pemikiran seperti ini motivasi ketaatan bukan karena takut pada otoritas Allah atau sanksi yang bisa menimpa tetapi pada tujuan yang hendak dicapai. Ketaatan juga bukan menjadi penghalang kebebasan tetapi justru mengarahkan kebebasan kita untuk memilih cara yang tepat dalam menjalankan peran kita. Kita menjadi taat karena kita melihat ada kebaikan terpampang di hadapan kita. Kebaikan yang hendak kita raih bersama mendorong kita untuk mentaati aturan main.
Doa Persiapan Persembahan
Allah Bapa yang Mahasetia, kami persembahkan seluruh hasil karya-Mu. Berkatilah roti dan anggur yang kini kami haturkan kepada-Mu di altar yang suci ini. Terimalah persembahan hidup kami dan satukanlah dengan persembahan Yesus Putera-Mu di Altar ini. Dengan demikian persembahan hidup kami semakin memampukan kami untuk mendengarkan kehendak-Mu dan membuahkan ketaatan, kebahagian dan keselamatan. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.
Doa sesudah komuni : …..Mohon kekuatan Dalam ketaatan.
Doa Penutup
Allah Bapa yang Mahamurah, Putera-Mu telah menunjukkan ketaatan-Nya kepada-Mu untuk menyelamatkan kami. Kami telah menyambut Tubuh dan Darah-Nya dari meja perjamuan ini. Teguhkanlah kehendak kami untuk taat kepada-Mu. Jiwailah kami dengan Roh Kudus-Mu. Ajarilah kami untuk selalu taat kepada-Mu. Demi Yesus Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin
|



