| Hari Raya Hati Kudus Yesus |
|---|
|
Novena Hati Kudus Yesus hari ke- 3
AKU TAHU KEPADA SIAPA AKU PERCAYA
Kita taat karena kita percaya. Kita percaya pada kualitas pribadi yang menuntut ketaatan kita. Bukan karena kita takut tetapi karena kita yakin bahwa ada kebaikan, ada nilai, ada integritas dalam dirinya. Dan oleh karena itu kita membuka diri, bersedia mendengarkannya, dan kemudian melaksanakan apa yang dikhendakinya.
Bacaan Pertama : 2Tim. 1:3-18 Bacaan Injil : Luk. 5: 12-16 Doa Pembukaan : Allah Bapa kami, Engkau mewahyukan diri supaya kami mengenal dan mengimani-Mu. Melalui Yesus Putera-Mu, kami mengenal Engkau sebagai Bapa. Kami tahu kepada siapa kami percaya. Bimbinglah kami untuk mendengar dan meresapkan Sabda-Mu. Teguhkanlah iman kami berkat Sabda dan Karya Yesus Putera-Mu yang terkasih. Demi Yesus Kristus Putera-Mu yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus sepanjang segala masa. Amin.
Refleksi Bahasa latinnya “taat” ialah obedire. Kata ini berdekatan dengan ob-audire artinya mendengarkan. Untuk menjadi seorang pendengar yang baik dibutuhkan sikap rendah hati dan memperlakukan partner bicaranya secara hormat. Di dalamnya ada sikap peduli dan terbuka terhadap “yang lain” dan akal budi ikut berperan. Rousselot berkata: “Akal budi adalah kemampuan untuk mendengarkan orang lain. Akal budi membuka telinga!” McCabe menulis: “Ketaatan pertama-tama adalah keterbukaan akal budi yang sedemikian rupa sehingga ia sungguh-sungguh terlibat dalam pengetahuan. Ketaatan hanya menjadi sempurna kalau orang yang memberikan perintah dan orang yang mematahui perintah menjadi sepikir…!” Ketaatan yang benar menuntut “pengatahuan atau pemahaman”, ketulusan hati dan totalitas dalam mendengarkan dan menjalankan perintah yang diterima. Sikap ini mengandaikan adanya penyerahan diri dan kasih. Dalam bacaan pertama, terlihat bahwa St Paulus mempunyai relasi yang tulus, mesra dan hormat terhadap jemaat khususnya dengan Timotius (ay 3). Ia memuji orangtua yang setia menurunkan tradisi dan iman kristiani, yaitu dari Lois ke Eunike dan ke Timotius. Mewariskan iman berarti: (1) setia pada tradisi (bdk 3:10), (2) setia kepada ortodoksi kepercayaan: “peganglah.....(ay 13). (3) memiliki relasi pribadi yg intim dengan Tuhan (ay 12). Iman seperti itulah yang akan menguatkan Timotius yang sedang menghadapi aneka macam kesulitan atau masalah hidupnya sendiri dan jemaatnya. Ajaran St Paulus ini berasal dari pengalaman pribadinya. Berkat hubungan pribadinya yang mesra dengan Kristus, ia siap menghadapi penderitaan apapun bahkan kematian (bdk Rm 8:35). Ia tergerak oleh ketaatan Kristus terhadap Bapa-Nya (Fil 2:6-11) dan ingin mencontohnya. Dalam Injil diceritakan tentang ketaatan seorang yang terkena penyakit kusta kepada Tuhan Yesus. Di masyarakat Yahudi, penyakit kusta dipandang sebagai kutukan dari Allah yang maha adil. Masyarakat memandang rendah terhadap orang kusta. Pastilah dia sangat menderita secara fisik dan secara mental. Dalam ketidakberdayannya itu, tentu ia berharap bahwa Tuhan Yesus akan menolongnya tetapi ia tetap menyadari bahwa ia tidak mempunyai hak untuk memperoleh belaskasih Allah. Ia merasa hina dan tak layak menerima kemurahan hati Allah. Ia harus taat kepada keputusanNya. Sikap pasrah, taat dan menghormati kuasa Allah itu justru yang menggerakan Hati Yesus untuk menyembuhkannya. Ada seorang pengusaha yang tertimpa masalah. Selain usahanya gagal dan bangkrut, ia sendiri terkena penyakit serius: Kedua anaknya waktu itu masih berada di SMP dan SMA. Tidak lama kemudian istrinya tergoda oleh seorang lelaki mantan rekan usaha. Dia datang kepada seorang pastor minta nasehat. E…tidak diberi jalan keluar tetapi malah disodori daftar anak-anak miskin yang membutuhkan beasiswa. Syukurlah pastor itu masih memberi sedikit anjuran yang baik: “Pergilah ke Misa setiap hari…persembahkan deritamu dan keluargamu kepada Allah Bapa seperti Tuhan Yesus pada Perjamuan Terakhir hanya bisa mempersembahkan tubuh dan darahNya!” Nasehat pastor itu ia turuti dengan sebuah tekad: “Kalau saya harus menderita…keluargaku hancur…usahaku brantakan bahkan saya masuk penjara akan saya jalani dengan tulus dan total asal saya tetap bersama Tuhan Yesus. Bagiku yang penting tinggal bersama Yesus. Itu cukup!” Persembahan diri yang total, menjalankan amal kasih semampunya, merayakan Ekaristi dan taat pada nasehat pastor itu ternyata betul-betul jalan Tuhan. Sedikit demi sedikit usahanya pulih kembali dan dia mampu mengampuni istrinya. Pengusaha itu kini menjadi aktivis paroki dan kedua anaknya hampir selesai meraih gelar sarjana. Sikap taat adalah salah satu dimensi iman kepercayaan kristiani. Di dalamnya ada sikap terbuka, rendah hati, rela sedia mendengarkan dan mempersembahan diri. Tentu ada juga unsur korban dan rela menderita. Inilah pola yang ditempuh oleh Tuhan Yesus: taat, menderita, disalibkan dan bangkit. Iman seperti ini menguatkan hidup setiap orang dalam situasi apapun. Berdevosi kepada Hati Kudus Yesus berarti berani menempuh pola hidup Tuhan Yesus yang “makanannya adalah melaksanakan kehendak Bapa” – taat, siap menderita, disalibkan, wafat dan merasakan kebangkitan bersama Roh Allah.
Doa Persiapan Persembahan
Allah Bapa yang penuh kasih. Terimalah persembahan kami sebagai ungkapan syukur atas semua anugerah yang telah Engkau berikan kepada kami. Satukan persembahan hidup kami dengan kurban Yesus Putera-Mu, sehingga persembahan hidup kami semakin memampukan kami untuk lebih mengenal dan percaya kepada-Mu dan membuahkan kebahagian dan keselamatan, demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.
Doa sesudah komuni : …..Mohon kekuatan Dalam ketaatan.
Doa Penutup Allah Bapa sumber pengetahuan dan kehidupan. Kami bersyukur karena boleh mengenal Engkau dan menjadi putera-puteri-Mu. Engkau telah memperkenankan kami merayakan dan mengambil bagian dalam kurban Kristus ini. Kami telah menyambut Tubuh dan Darah-Nya. Semoga sakramen ini meneguhkan kepercayaan dan ketaatan kami kepada-Mu. Demi Yesus Kristus Putera-Mu yang hidup dan bertahta bersama Engkau dalam persekutuan dengan Roh Kudus sepanjang segala masa. Amin.
|



